Oleh : Robert T Herman (Published on nttonlinenews.com)

Sejak zaman Romawi hingga Abad Kegelapan dan Renaisance, umat manusia terus berjuang untuk bertahan hidup dengan memeras keringat meski tak jarang jerih payah ini hanya mampu bertahan untuk kehidupan sehari.

 Realitas mengedapankan bahwa perjuangan untuk mempertahankan diri dari kemiskinan, penindasan, penyakit, kelaparan dan kebodohan adalah gambaran bahwa ”perubahan” adalah mimpi bagi sebagian besar penghuni planet ini. Penulis asal Inggris, Thomas Hobbes pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia itu adalah kehidupan yang sepi, miskin, kacau, kejam dan singkat. Kondisi ini sangat relevan dengan realita yang sedang terjadi hingga hari ini bahkan entah sampai kapan.

Dalam ranah globalisasi dan modernisasi yang ditandai dengan munculnya inovasi teknologi, berkembang pesatnya pengetahuan dan sains, akses internet yang sangat cepat dan terobosan mutakhir lainnya bukanlah menjadi titik balik menuju sebuah perubahan yang diidam-idamkan. Peradaban yang maju dengan standar hidup yang lebih baik, sebuah dunia baru yang lebih makmur dan damai yang bukan hanya milik orang kaya dan penguasa melainkan milik semua orang masih menjadi sebuah bayang-bayang ilusi.

Bagi masyarakat dengan tingkat peradaban yang tinggi baik dari segi pengetahuan, ekonomi dan kesejahteraan sosial yang baik, tidak akan sulit beradaptasi dan melangkah di tengah gelombang modernisasi dan globalisasi. Sebaliknya serbuan modernisasi dan perubahan-perubahan teknologi dan sosial hanya melahirkan frustrasi dan disorientasi di tengah mayoritas masyarakat Indonesia terutama mereka yang memiliki peradaban rendah baik dari tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial, maupun teknologi dan pendidikan.

Kapitalisasi Global

Masuknya investasi asing di negeri ini semestinya menjadi cikal bakal pertumbuhan ekonomi. Gairah investor menanamkan modalnya hingga ke pelosok Kawasan Timur Indonesia termasuk di Kabupaten Manggarai – Nusa Tenggara Timur dilansir sebagai bentuk kapitalisasi global. Proyek investasi penambangan mangan di lokasi kawasan Pemda Manggarai ini masih menimbulkan pro dan kontra yang milabatkan unsur Pemda Manggarai, DPRD Manggarai, Tokoh masyarakat dan agama, LSM dan pihak lainnya yang merasa berkepentingan dalam proyek murah meriah ini. Apakah runtuhan puing ekonomi global tengah mengancam kehidupan si miskin yang tengah dipermainkan?

Menatap Masa Depan

Entah model apa yang dipakai Pemerintah Daerah Manggarai untuk menghasilkan kekayaan universal yang bakal dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dari adanya eksplorasi tambang. Ada kesan yang diskenariokan dimana Pemda Manggarai sepertinya bingung dalam merealisasikan janji perbaikan kesejahteraan rakyat sehingga ada dalih untuk menolak tawaran maksiat penambangan dengan iming-iming meraup keuntungan besar yang akan dikembalikan kepada kepentingan rakyat. Inilah bentuk orasi murahan dengan memberikan ”ciuman” seolah menyayangi rakyat sementara mereka yang diseberang kampung kehabisan air mata akibat penderitaan dan penyakit ulah penambangan ini. Dari kondisi ini, maka jelas masa depan Manggarai hanyalah milik penguasa, orang-orang kaya dan semua pihak yang mendapat jatah dari proyek penambangan ini.

Merkantilisme Baru

Ada kesan loyal yang tinggi dari Pemda Manggarai terhadap kalangan Investor yang jumlahnya mencapai 11 perusahaan. Kebijakan Pemda Manggarai tak jauh berbeda dengan daya tarik yang diberikan oleh kaum Merkantilis dengan menciptakan monopoli yang disahkan oleh pemerintah. Inilah bentuk kolonialisme baru dengan membiarkan rakyat menderita sementara kekayaan alam, tempat tinggal, lahan pemberi nafkah dan lingkungan hidupnya dijadikan tambang untuk mayoritas kepentingan investor. Inilah kebijakan yang terjadi saat ini. Saya sangat setuju dengan sikap Adam Smith dalam buku The Wealth of Nations (1965 , hal 625) yang menyatakan bahwa kebijakan Merkantilis hanya menghasilkan kemakmuran dan keuntungan bagi produsen dan pemegang monopoli saja. Merkanitilisme tidak menguntungkan konsumen dan dia anti pertumbuhan. Dalam sistem Merkantilis, kepentingan konsumen selalu dikorbankan demi kepentingan konsumen. Dan inilah yang terjadi, maka galian tambang sama halnya dengan galian kuburan untuk masyarakat Manggarai terutama yang berada di sekitar kawasan eksplorasi.

Kebijakan Absurd

Saya melihat sebuah kibajakan yang sangat konyol (absurd) dan sarat muatan politis dalam kasus tambang mangan di Manggarai – NTT. Sepertinya Pemda Manggarai tidak memiliki kemampuan prediktif dalam mempersiapkan masa depan (future – Readiness) sehingga gegabah dalam mengeluarkan surat ijin kepada investor pertambangan. Persoalan mendasar bukanlah mempersoalkan regulasi atau undang-undang yang berlaku termasuk uang jaminan yang nilai minimalnya mencapai Rp 1 Miliar. Sangat jelas, Pemerintah Daerah Manggarai tidak memiliki kearifan lokal (local genius) dalam menghadapi serbuan rayuan investor yang memang sudah sejak lama melihat potensi kekayaan alam Manggarai.

Belum Terlambat namun Terlalu Cepat

Belum terlambat untuk mengambil langkah taktis dan strategis dalam menyelesaikan persoalan yang ada secara arif dan santun, mereposisikan kembali kepentingan rakyat jauh di atas kepentingan individu dan golongan, menata kembali pranata sosial dan ekonomi melalui pemberdayaan kekayaan alam lainnya dari sektor pertanian, kelautan, industri pariwisata, UKM dan sebagainya yang sudah menjadi sumber utama kehidupan masyarakat Manggarai sejak nenek moyang dahulu.

Kita harus bangga atas kekayaan alam yang nilainya sangat besar yang masih berada di dalam perut bumi Manggarai, pastikan itu warisan untuk anak dan cucu kita. Namun terlalu cepat jika eksploitasi harus dilakukan tanpa suatu proses yang matang. Tentu saja ini pekerjaan rumah buat Bupati Manggarai, Kris Rotok untuk secara bijak dan santun mengahadapi pergolakan yang terjadi sehingga tidak terjadi perang vertikal dan horisontal antara yang pro dan kontra eksplorasi tambang mangan. Pemda Manggarai dan DPRD harus bijak atas upaya yng sudah dilakukan oleh berbagai LSM atau lembaga independen lainnya dengan mengedapankan temuan-temuan yang sangat realisitis yang justru jauh lebih berharga dan paling urgent. Semua telah melihat kerusakan yang terjadi baik sosial, ekonomi, kesehatan dan terutama kerusakan lingkungan hidup. Sekali lagi, semua upaya ini adalah karena semua memimpikan Manggarai yang makmur dan sejahtera.

BERITA BINUS : BINUS UNIVERSITY MENDATANGKAN DIPLOMAT HANDAL

farfromfearless

Kebijakan Konyol dan Polemik Eksplorasi Tambang Manggarai

Oleh : Robert T Herman (Published on nttonlinenews.com)

Sejak zaman Romawi hingga Abad Kegelapan dan Renaisance, umat manusia terus berjuang untuk bertahan hidup dengan memeras keringat meski tak jarang jerih payah ini hanya mampu bertahan untuk kehidupan sehari.

 Realitas mengedapankan bahwa perjuangan untuk mempertahankan diri dari kemiskinan, penindasan, penyakit, kelaparan dan kebodohan adalah gambaran bahwa ”perubahan” adalah mimpi bagi sebagian besar penghuni planet ini. Penulis asal Inggris, Thomas Hobbes pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia itu adalah kehidupan yang sepi, miskin, kacau, kejam dan singkat. Kondisi ini sangat relevan dengan realita yang sedang terjadi hingga hari ini bahkan entah sampai kapan.

Dalam ranah globalisasi dan modernisasi yang ditandai dengan munculnya inovasi teknologi, berkembang pesatnya pengetahuan dan sains, akses internet yang sangat cepat dan terobosan mutakhir lainnya bukanlah menjadi titik balik menuju sebuah perubahan yang diidam-idamkan. Peradaban yang maju dengan standar hidup yang lebih baik, sebuah dunia baru yang lebih makmur dan damai yang bukan hanya milik orang kaya dan penguasa melainkan milik semua orang masih menjadi sebuah bayang-bayang ilusi.

Bagi masyarakat dengan tingkat peradaban yang tinggi baik dari segi pengetahuan, ekonomi dan kesejahteraan sosial yang baik, tidak akan sulit beradaptasi dan melangkah di tengah gelombang modernisasi dan globalisasi. Sebaliknya serbuan modernisasi dan perubahan-perubahan teknologi dan sosial hanya melahirkan frustrasi dan disorientasi di tengah mayoritas masyarakat Indonesia terutama mereka yang memiliki peradaban rendah baik dari tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial, maupun teknologi dan pendidikan.

Kapitalisasi Global

Masuknya investasi asing di negeri ini semestinya menjadi cikal bakal pertumbuhan ekonomi. Gairah investor menanamkan modalnya hingga ke pelosok Kawasan Timur Indonesia termasuk di Kabupaten Manggarai – Nusa Tenggara Timur dilansir sebagai bentuk kapitalisasi global. Proyek investasi penambangan mangan di lokasi kawasan Pemda Manggarai ini masih menimbulkan pro dan kontra yang milabatkan unsur Pemda Manggarai, DPRD Manggarai, Tokoh masyarakat dan agama, LSM dan pihak lainnya yang merasa berkepentingan dalam proyek murah meriah ini. Apakah runtuhan puing ekonomi global tengah mengancam kehidupan si miskin yang tengah dipermainkan?

Menatap Masa Depan

Entah model apa yang dipakai Pemerintah Daerah Manggarai untuk menghasilkan kekayaan universal yang bakal dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dari adanya eksplorasi tambang. Ada kesan yang diskenariokan dimana Pemda Manggarai sepertinya bingung dalam merealisasikan janji perbaikan kesejahteraan rakyat sehingga ada dalih untuk menolak tawaran maksiat penambangan dengan iming-iming meraup keuntungan besar yang akan dikembalikan kepada kepentingan rakyat. Inilah bentuk orasi murahan dengan memberikan ”ciuman” seolah menyayangi rakyat sementara mereka yang diseberang kampung kehabisan air mata akibat penderitaan dan penyakit ulah penambangan ini. Dari kondisi ini, maka jelas masa depan Manggarai hanyalah milik penguasa, orang-orang kaya dan semua pihak yang mendapat jatah dari proyek penambangan ini.

Merkantilisme Baru

Ada kesan loyal yang tinggi dari Pemda Manggarai terhadap kalangan Investor yang jumlahnya mencapai 11 perusahaan. Kebijakan Pemda Manggarai tak jauh berbeda dengan daya tarik yang diberikan oleh kaum Merkantilis dengan menciptakan monopoli yang disahkan oleh pemerintah. Inilah bentuk kolonialisme baru dengan membiarkan rakyat menderita sementara kekayaan alam, tempat tinggal, lahan pemberi nafkah dan lingkungan hidupnya dijadikan tambang untuk mayoritas kepentingan investor. Inilah kebijakan yang terjadi saat ini. Saya sangat setuju dengan sikap Adam Smith dalam buku The Wealth of Nations (1965 , hal 625) yang menyatakan bahwa kebijakan Merkantilis hanya menghasilkan kemakmuran dan keuntungan bagi produsen dan pemegang monopoli saja. Merkanitilisme tidak menguntungkan konsumen dan dia anti pertumbuhan. Dalam sistem Merkantilis, kepentingan konsumen selalu dikorbankan demi kepentingan konsumen. Dan inilah yang terjadi, maka galian tambang sama halnya dengan galian kuburan untuk masyarakat Manggarai terutama yang berada di sekitar kawasan eksplorasi.

Kebijakan Absurd

Saya melihat sebuah kibajakan yang sangat konyol (absurd) dan sarat muatan politis dalam kasus tambang mangan di Manggarai – NTT. Sepertinya Pemda Manggarai tidak memiliki kemampuan prediktif dalam mempersiapkan masa depan (future – Readiness) sehingga gegabah dalam mengeluarkan surat ijin kepada investor pertambangan. Persoalan mendasar bukanlah mempersoalkan regulasi atau undang-undang yang berlaku termasuk uang jaminan yang nilai minimalnya mencapai Rp 1 Miliar. Sangat jelas, Pemerintah Daerah Manggarai tidak memiliki kearifan lokal (local genius) dalam menghadapi serbuan rayuan investor yang memang sudah sejak lama melihat potensi kekayaan alam Manggarai.

Belum Terlambat namun Terlalu Cepat

Belum terlambat untuk mengambil langkah taktis dan strategis dalam menyelesaikan persoalan yang ada secara arif dan santun, mereposisikan kembali kepentingan rakyat jauh di atas kepentingan individu dan golongan, menata kembali pranata sosial dan ekonomi melalui pemberdayaan kekayaan alam lainnya dari sektor pertanian, kelautan, industri pariwisata, UKM dan sebagainya yang sudah menjadi sumber utama kehidupan masyarakat Manggarai sejak nenek moyang dahulu.

Kita harus bangga atas kekayaan alam yang nilainya sangat besar yang masih berada di dalam perut bumi Manggarai, pastikan itu warisan untuk anak dan cucu kita. Namun terlalu cepat jika eksploitasi harus dilakukan tanpa suatu proses yang matang. Tentu saja ini pekerjaan rumah buat Bupati Manggarai, Kris Rotok untuk secara bijak dan santun mengahadapi pergolakan yang terjadi sehingga tidak terjadi perang vertikal dan horisontal antara yang pro dan kontra eksplorasi tambang mangan. Pemda Manggarai dan DPRD harus bijak atas upaya yng sudah dilakukan oleh berbagai LSM atau lembaga independen lainnya dengan mengedapankan temuan-temuan yang sangat realisitis yang justru jauh lebih berharga dan paling urgent. Semua telah melihat kerusakan yang terjadi baik sosial, ekonomi, kesehatan dan terutama kerusakan lingkungan hidup. Sekali lagi, semua upaya ini adalah karena semua memimpikan Manggarai yang makmur dan sejahtera.

BERITA BINUS : Selamat Paskah 2014

No comments as yet.

Anonymous - Gravatar

No comments have yet been made to this posting.

Commentors on this Post-

Leave a Comment-

Comment Guidelines: Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). All line breaks and paragraphs are automatically generated. Off-topic or inappropriate comments will be edited or deleted. Email addresses will never be published. Keep it PG-13 people!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

All fields marked with "*" are required.

*